RSS

20 Agustus 2013



Harusnya aku malu dan sedih jika terpaksa harus menulis ini. Atau mungkin tidak usah aku tulis saja. Biar saja menjadi sampah penghias langit-langit ingatanku. Tidak. Aku akan tetap menulisnya. Dengan bahasaku dan dengan caraku memahami. Ini urusanku dengan sakitku.

Aku tidak berharap mengetahuinya. Aku juga tidak berharap siapapun mengetahuinya. Hanya mataku yang tidak bisa menyembunyikan. Sebab airnya meluap, jadi berkaca-kaca. Dan aku harus segera menyembunyikannya.

Aku tahu semua ini memang didasari cinta kasih. Tapi mengapa seperti itu. Dan selalu begitu. Dan aku selalu diposisikan tidak harus berbuat dan selalu pasrah.

Inikah perbedaan kuasa. Yang seharusnya kuasaku atas yang aku alami. Sungguh mengecewakan. Ternyata hanya tong kosong yang menggelinding kemana-mana. Tak berguna dan membebani saja. Apa dari ini semua?

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

30 Juni 2013



Kenangan itu masih lekat dan dekat. Malam pergantian tahun. Ya, menyambut lembar baru 2012. Senda tawa sekenanya memang tidak pernah mampu ku terka. Arah dan muasalnya. Sebelumnya, aku mampir kios kecil pinggir jalan. Membeli rokok LA isi enam belas seharga sebelas ribu. Beberapa meter dari perempatan itu. Lampu kerlip merah kuning hijau.

Jaketku Cartenz ungu yang itu. Ya, yang kubeli delapan bulan sebelumnya. Jadi masih nampak oke. Beberapa lembar uang sisa dari menang lomba masih jauh dari sekedar cukup. Jika hanya untuk menghabiskan malam yang penuh kembang api itu.

Hutangku kini bertambah. Hutang yang tidak akan pernah lunas. Setidaknya itu yang ku tahu hingga saat ini. Tidak tahu cara melunasi. Karena memang sudah beda. Beda keadaan dan kenyataan. Logika tidak benar-benar mampu memberikan jawaban yang pasti mengenai itu. Dan ini akan aku bawa hingga nanti.

Tidak ada harga yang pantas untuku. Karena itu sangat murah. Jika hanya seperti itu. Saking murahnya aku tak bisa menunaikannya. Karena sering menunda. Tapi kini aku ingat. Tidak ada yang pernah tau batasan waktu itu. Hanya bisa berharap dan memohon. Entah untuk mempercepat atau mengulurnya.

Dan aku untuk yang kesejuta kalinya—bahkan lebih—selalu bermain-main dengannya. Meski aku tahu ia yang akan menyudahi ini semua. Dan aku benar-benar terlena. Inginku cuma sederhana. Jangan ada air yang menetes dari mataku. Dan jangan ada pula yang jatuh karena aku. Biarkan semua seolah baik-baik saja.

Tak boleh apapun yang meninggalkanku. Tidak untuk itu. Itu inginku. Biar aku saja yang pergi. Sebab, memang tidak ada gunanya lagi. Semakin lama, akan ada lebih banyak air mata yang menggenang. Dan sayatan dalam beberapa hati. Semakin banyak yang mati untuk sebuah kehidupan selanjutnya.

Bukan maksudku aku tidak punya harapan lagi. Tapi memang itu harapanku. Yang paling sederhana. Jangan menganggap asaku sudah retak dan terputus-putus. Sebab aku diramalkan bercita-cita tinggi, pekerja keras dan tegas. Tidak hanya diramalkan. Memang aku seperti itu adanya. Apa yang aku ingini adalah agamaku. Keyakinan. Dan menjadi urusanku dengan yang ku anggap Tuhanku.

Kebencian harus ada dan dipelihara sejinak mungkin. Untuk melawan rasa kasih yang berlebih. Buruk adalah sisi lain dari sebuah kebaikan yang dilihat dari sudut lain. Salah adalah pasangan yang tidak akan rela jika harus dipisahkan dari sebuah benar. Semua saling melengkapi.

Aku tidak ingin dan akan menganakemaskan satu saja di antara mereka. Karena aku semakin tahu arti dari semua itu. Walau kadang memang tidak akan pernah bisa diterima orang kebanyakan. Yang lebih suka pada tangan kanan daripada kiri.

Aku memang bukan penganut apa-apa yang kebanyakan orang yakini. Dan aku bisa mengerti apa-apa yang mereka lakukan. Dan itu tidak lantas membuatku menuntut mereka untuk mengerti yang aku yakini.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

27 Pebruari 2008


Siapa aku sebenarnya
Aku adalah aku
Meski itu bukanlah aku
Tapi tetap saja aku
Aku tahu betul siapa aku
Meski itu bukanlah aku
Tetap saja aku
Kadang aku bukanlah aku
Tapi itu adalah aku
Karena aku bukan dia atau mereka

Lalu, kenapa aku ada
Untuk apa aku ada
Aku hanya semburat yang terpendar
Terpenjara dalam ruang yang sempit
Bahkan sangat sempit dan terbatas

Aku selalu mencoba lepas
Mengembara tanpa batas
Tapi penjara itu tidak mau
Atau cuma belum mau melepas

Aku merasa ada yang memanggil
Untuk keberadaanku ini
Meski dengan penjara yang menyesakkan
Aku tidak tahu sebenarnya
Apa atau siapa yang memanggilku
Bahkan panggilan itu sendiri aku tak yakin
Hanya aku berharap segera tahu
Tujuan dari keberadaanku
Sudah banyak yang bilang
Tapi itu adalah dari mereka
Bukan dari diriku sendiri

Aku ingin segera lepas dari penjara ini
Meski aku juga belum tahu
Kemana dan apa yang akan terjadi
Setelah aku terbebas
Hanya saja aku akan terus
Dan terus mengembara
Meski terpenjara dalam keterbatasan

Akan kubiarkan perjalananku
Meski tetap saja kembali kepenjara
Tiada kubiarkan siapapun mencegah
Itu adalah kebahagiaan
Kebahagiaan yang abadi
Hingga aku benar-benar bebas


06.55 AM

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

16 Mei 2009


Hilang arah
kegelisahan ini terasa begitu segan dan dingin
hanya menyumbul keinginan dan keraguan
membawa keletihan tiap lentik jemari
kaki ini kian terseok-seok
untuk berdiri semakin berat
untuk berlari apa lagi
harapan itu tersesat di hamparan luas gurun tak bertepi
dilingkupi pekatnya kabut
panas dan dingin menggigilkan hati
berbagi waktu dengan alam
kau akan tahu siapa dirimu sebenarnya
 hakikat manusia                                   
akan akutelusuri jalan yang setapak ini
semoga kutemukan jawaban
kini aku telah buta
tak bertangan dan berbadan
tinggal potongan otak tanpa kepala
mampu menalar tak mampu kelakar
kompas yang kehilangan arah
arloji yang malas berputar

Jember, 04.20

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

19 Mei 2013


Tidak akan ada yang pernah tahu dan ingat kejadian itu. Itu pula yang membuatku enggan dengan perempuan hingga kini. Melepaskan tamparan hingga hidungku mimisan. Usiaku belum genap masuk SD kala itu. Tapi ingatan ini masih ada dan sering kali menakutiku. Belum lagi sikap tanpa basa-basi yang langsung melayangkan beberapa jemari hingga membuatku terisak-isak menangis. Sungguh, perempuan itu mahkluk yang mengerikan. Maka tak akan kubiarkan semena-mena kali ini.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

16 Mei 2013


Katamu, kata bertemu mata melahirkan makna. Memunculkan rasa. Dan apa setelahnya pastinya tidak bisa aku terka. Karena masih petanda belaka. Dan bukan sesungguhnya. Semua pasti tidak rela. Jika tidak berujung bahagia. Hanya meninggalkan duka nestapa. Aku pasti akan berkata dusta untuk mengungkapkan yang sesungguhnya. Secerdik itu kau harusnya membaca makna. Karena ini hanya antara kita. Rahasia di balik kata. Sebuah ruang hampa penuh makna.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Nganjuk 2008


Perpisahan itu
Nanar matamu menatapku
Di sudut kursi depan waktu itu
Semula hanya tersumbul setengah-setengah
Katamu dengan malu
Bergulir waktu menyusuri depa kehidupan
Tak jua selalu seperti dalam pikiran
Di kursi panjang dalam kereta Surabaya Jogja
Pikiranku berlari melebihi kecepatannya
Menuju segala arah tanpa tujuan
Senang susah senang susah
Pikirku dalam kereta
Senang menuju sesuatu yang tak aku ketahui
Susah meninggalkan yang telah aku rasuki

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

6 Mei 2013


Seseorang yang mencintai kamu
Tidak bisa memberi alasan, mengapa ia mencintaimu
Dia hanya tahu, di mata dia, kamulah satu - satu nya

Seseorang yang mencintai kamu
Sebenarnya selalu membuatmu marah, gila, jengkel, stress
Tapi ia tidak pernah tahu hal bodoh apa yang sudah ia lakukan,
karena semua yang ia lakukan adalah untuk kebaikanmu

Seseorang yang mencintai kamu
Jarang memujimu
Tetapi di dalam hatinya, kamu adalah yang terbaik
Hanya itu yang ia tahu

Seseorang yang mencintai kamu
Akan marah atau mengeluh, jika kamu tidak membalas pesannya atau teleponnya
Karena ia peduli, dan tidak ingin sesuatu terjadi padamu

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

30 April 2013


Bola itu manis. Tapi saat dimainkan, penuh resiko. Setidaknya tulisan singkat itu telah berdiam di draf ponselku seberapa lama. Saat kesadaranku sontak meletup terpantik perilaku konyol beberapa orang. Dan aku rasa hingga aku membuat tulisan itu nampak lebih panjang, masih berlaku. Aku tak peduli ini akan dimaknai seharfiah itu atau apa. Yang jelas ketetapan itu sudah tertulis di kitab lelakon hidup. 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

29 April 2013


Entah karena software office-ku yang rusak atau PC-ku yang tidak rela. Ketika aku hendak membual tentang kenyataan yang terjadi, tampilan di muka layar beku seketika. Setelah beberapa kalimat telah berhasil aku sematkan. Seperti tempelan yang tak bisa diapa-apakan lagi. Hingga harus Task Manager yang turun tangan mengakhirinya.

Aku tahu, yang penting buatku tidak harus sama buatmu. Ini lantas menjadi opus maknumku dalam bertindak. Bukan berarti aku egois. Aku hanya tidak berniat—jangankan memaksakan—inginmu mengikuti inginku. Karena memang sudah berbeda.

Akan ku tempuh jalanku lagi. Sebuah kejatian memori lama dalam diriku. Yang sempat terombang-ambing mengambang sekian lama. Aku tidak akan kompromi lagi. Bilang saja ya, atau juga tidak. Bagiku sudah cukup. Tak perlu mangutarakan alasan apapun.

Aku memang suka bermain-main. Tapi tidak untuk dipermainkan. Mungkin ada benarnya katamu waktu itu. Sendiri akan lebih baik. Tidak ada ketergantungan. Tidak banyak berharap. Dan pastinya tidak ada otak kedua dalam segala hal.

Aku sedang menikmati ini. Dan sendiri. Persetan dengan kalian semua. Aku tidak akan bikin kekacuan pada kalian. Jadi jangan mengacau laju waktuku. Jangan mengiming-imingi sesuatu yang pasti akan kutepis.

Sia-sia belaka. Perlahan aku akan menguburnya dalam-dalam. Menghempasnya tak bersisa. Tanpa jejak. Tanpa kesempatan untuk menggalinya lagi.

Aku hanya butuh sedikit waktu untuk menuntaskan selembar cerita kehidupanku. Dan kita punya lembar masing-masing. Aku tidak pernah dan tidak akan menggoreskan pena waktu di halaman lembarmu. Jadi jangan sekali-kali pula selembar miliku kau kotori. Karena aku pasti akan mengutuk. Dengan doa yang isinya cerca.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

16 april 2013


Rauje
Lama sudah lentik jemari ini tak menari riang di atas keyboard. Seperti kerinduan setangkai mawar terhadap si jantan kumbang. Yang akhirnya harus dibangunkan kembali oleh sebuah tulisan tengil seseorang yang tak lumrah sebagai teman biasa.
Untungnya, tulisan tengil itu tak dilabeli sebuah judul ketika aku terima. Jadi hanya aku dan yang merasa saja yang akan tahu cerita ini.
Ingatan saya masih lekat dengan masa itu. Ketika hangat telapak tangannya dibalut dingin malam dan genggam tanganku yang dingin pula. Tiba-tiba waktu berjalan cepat. Seolah ini akan segera berakhir. Dan aku benar-benar takut ini akan berakhir.
Waktu harus tetap berjalan seperti harusnya. Dan aku memang tidak bisa mengulur-ngulurnya lagi. Hela napasmu saat terlelap berhasil menghipnotisku. Hingga menenggelamkanku jauh di alam bawah sadar.
Saat mata ini terbelalak, tak ada lagi hangat tanganmu dalam genggamanku. Tak ada lagi merdu dengus napasmu. Dan, itu semua adalah mimpi terindah yang pernah terbayang dalam imaji kesadaranku.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

20 Februari 2013


Pesan Bulan Bundar: Satu.
Bulan purnama itu bagus, indah, sekaligus menyeramkan. Itu ingat saya atas keberadaan bulan purnama bagi saya saat umur empat tahun. Bagus dan indah karena menakjubkan sekali melihat bulatan serupa emas bundar utuh bertenger di langit, menyeramkan karena si bulan selalu dikait-kaitkan dengan buto ijo dan kemarahannya.

Namun, melihat bulan purnama dari rumah saya itu tak seromantis seperti yang dipertontonkan film—yang bisa menonton si bulan dari jendela kamarnya sambil membayangkan wajah kekasih idaman. Tidak lah. Rumah saya terletak di gang kecil. Jarak antara satu rumah dengan lainnya cukup dekat, kurang lebih semeter lah. Jadi bisa dibilang juga  pet-dempetan. Dengan letak rumah yang begitu, mustahil bukan melihat bulan dari jendela kamar? Adanya yang kelihatan malah tembok tetangga. 

Dengan keadaan seperti itu, tentu saja untuk melihat bulan purnama, saya harus keluar rumah. Berdiri di jalanan gang. Mencari apa si purnama berada di ujung timur, sebelah barat. Atau saya harus berjinjit mencari di atas genting rumah serta tetangga, di sisi utara dan selatan. Begitu bulan purnama sudah ketemu dengan mata saya, saya menikmatinya habis-habisan, meski cuma bisa maksimal lima menit (karena ndak mungkin bukan saya berdiri di tengah jalan umum yang dilalui orang selama-lama semau saya?). He.he.

Hemm..itu cerita mengenai cara melihat bulan purnama. Kini saya mau cerita mengenai bulan purnama yang biasa-biasa saja, tak ada istimewanya—bagi saya loh, menurut saya loh. 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

20 Pebruari 2009

Daun, Kau dan Aku

Melukiskan daun
hijau: agak kemerahan, agak kekuningan, agak kebiruan
hijau: dengan menggoda, dengan kepasian
hijau: yang pasti hijau, terhampar hijaunya dengan jelas

Menghembus daun
segar, menawarkan kesejukan, menawarkan kenikmatan, menawarkan kematian
segar, dengan kering, dengan basah, dengan wangi, dengan busuk
segar, yang pasti segar, ada ribuan nafas hidup terangkum dengan jelas
Begitu kau, begitu aku
Begitu kau dan aku
ingin hijau, ingin segar
meretas hijau, meretas segar
bercumbu nafsu hijau, bergumul gairah segar

Begitu kau, begitu aku
Begitu kau dan aku
begitu kau, hanya ingin hijau dibumbuhi segar
begitu aku, hanya ingin segar diaromai hijau
begitu mereka, kebagian apakah


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS