RSS

20 Februari 2013


Pesan Bulan Bundar: Satu.
Bulan purnama itu bagus, indah, sekaligus menyeramkan. Itu ingat saya atas keberadaan bulan purnama bagi saya saat umur empat tahun. Bagus dan indah karena menakjubkan sekali melihat bulatan serupa emas bundar utuh bertenger di langit, menyeramkan karena si bulan selalu dikait-kaitkan dengan buto ijo dan kemarahannya.

Namun, melihat bulan purnama dari rumah saya itu tak seromantis seperti yang dipertontonkan film—yang bisa menonton si bulan dari jendela kamarnya sambil membayangkan wajah kekasih idaman. Tidak lah. Rumah saya terletak di gang kecil. Jarak antara satu rumah dengan lainnya cukup dekat, kurang lebih semeter lah. Jadi bisa dibilang juga  pet-dempetan. Dengan letak rumah yang begitu, mustahil bukan melihat bulan dari jendela kamar? Adanya yang kelihatan malah tembok tetangga. 

Dengan keadaan seperti itu, tentu saja untuk melihat bulan purnama, saya harus keluar rumah. Berdiri di jalanan gang. Mencari apa si purnama berada di ujung timur, sebelah barat. Atau saya harus berjinjit mencari di atas genting rumah serta tetangga, di sisi utara dan selatan. Begitu bulan purnama sudah ketemu dengan mata saya, saya menikmatinya habis-habisan, meski cuma bisa maksimal lima menit (karena ndak mungkin bukan saya berdiri di tengah jalan umum yang dilalui orang selama-lama semau saya?). He.he.

Hemm..itu cerita mengenai cara melihat bulan purnama. Kini saya mau cerita mengenai bulan purnama yang biasa-biasa saja, tak ada istimewanya—bagi saya loh, menurut saya loh. 


Saat itu minggu ke tiga di Oktober 2012, mendekati ulangan tahun saya, saya lupa tanggal persisnya, yang jelas kamu sedang pulang kampung. Sekitar habis magrib, saya sedang sendirian di kamar waktu itu, sedang asik baca novel detektif. Orang rumah tak ada semua, Budhe lagi main ke tetangga, sedang om dan bulek sudah pamit keluar sedari jam lima sore dengan si bungsu, jalan-jalan cari baju dan sate kambing, katanya. 

Sedang asik-asiknya sampai di halaman Hercules Poirot menganalisa tangga dan kaca di lokasi kejadian pembunuhan, saya mendengar suara air dari lubang kamar mandi bergemericik keluar, tanda bak kamar mandi sudah full, dan kran harus cepat dimatikan—diceritakannya kejadian ini turut membantu kesuksesan iklan hemat air, he. he. Selesai mematikan kran, saya tidak langsung balik ke kamar, tapi ke ruang tamu. Saya intip di dari jendela ruang tamu, jalanan sepi sekali. Padahal saat itu bukan malam Jumat—saya ingat betul kalau ini, sebab tidak ada pengumuman tahlilan yang biasanya diungkapkan lewat pengeras suara musholla selepas magrib.  

Penasaran dengan kesepian itu, saya keluar ke jalanan gang. Memang benar, sepi sekali. Tidak ada orang duduk-duduk di pertigaan di timur jalan seperti biasanya, tidak ada adek-adek kecil yang biasanya bermain, berlarian sambil jejeritan. Suasananya benar-benar hening, tapi tidak suram kok. Hanya hening. Saat itu, saya lihat langit. Mendung. Lihat ke arah manapun, tak ada bintang, sekecil apapun yang bisa saya tangkap dengan mata saya. Sepertinya mau hujan, udara membikin gerah, dan tidak ada tiupan angin yang lamat-lamat.
Saya memutuskan masuk lagi, mau meneruskan membaca lagi. Tapi tidak jadi, dari arah jalan raya saya melihat beberapa ibu-ibu berkerudung masuk ke gang saya, sambil membawa kotak kayu. Karena rumah saya adalah rumah ketiga di sisi kiri jalan masuk gang, akhirnya sampailah salah satu ibu-ibu itu ke rumah saya. 

Assalamualaikum,
Waalaikumsalam, ada apa Bu?” jawab saya yang kebetulan juga masih berdiri di halaman sempit depan rumah.
”Amal, Neng,” jawabnya. Saya melirik kotak kayu yang dibawanya, oiya ada tulisan: KOTAK AMAL.
”Amal buat apa ya, Bu?” Kami masih berdiri di halaman rumah saya.
”Anak-anak yatim-piatu, Neng,” jawab si ibu.
”Oh, masuk dulu, Bu,” saya bicara begitu sambil masuk ke rumah, diikuti ibu tersebut.
Kami berdua duduk berhadapan, kebetulan di meja ruang tamu saya ada beberapa gelas air mineral.
”Diminum dulu, Bu, monggo.” Dia mengambil satu gelas beserta sedotannya. Tapi tidak diminum.
”Kok tidak diminum, bu?”
“Buat nanti saja. Di mobil,” jawabnya.
”Loh, Ibu ke sini naik mobil? Memang berangkat dari mana?”
”Dari Mbalung, Neng. Kalau neng mau amal, masukkan sini, Neng,” dia menjawab pertanyaan saya sambil menyerahkan kotak kayu yang ada tulisannya kepada saya. 

Saya membatin. Oh, ibu ini memang keburu. Mungkin akan ditinggal sama kawan-kawan dan mobil-mobil pengangkutnya kalau kelamaan melayani pertanyaan saya.
Kebetulan ada uang di saku celana pendek saya. Saya masukkan ke kotak itu.
”Terima kasih, Neng,” katanya sambil beranjak berdiri.
”Kalau kurang airnya, boleh mbawa lagi, Bu.” Dia mengambil tiga gelas lagi.
”Semoga amal neng diterima Gusti Alloh, enteng rejeki, enteng jodoh,” jawabnya.
”Amin, bu. Doanya tambah satu lagi nggeh, Bu. Semoga mendungnya ilang, ganti bulan yang kelihatan,” jawab saya sambil senyum.
”Amin. Assalamualaikum.
Waalaikumsalam.”

Saya mengantarkan si ibu keluar sampai beranda, dia berjalan terus menuju ke arah timur, sampai di perempatan, belok kiri. Mungkin dia tahu rumah-rumah yang lain di dekat rumah saya, sudah dimasuki oleh teman-temannya. Saya mau masuk kembali ke rumah. Tapi sepertinya ada yang aneh. Saya lihat ke atas, langit sudah taidak mendung, ada beberapa bintang muncul. 

Dan, kamu tahu? Di sebelah utara, ada remang-remang bundar penuh. Ada bulan bundar penuh. Ada bulan purnama. Halooooooo, ada bulan purnama. Tiba-tiba beberapa tetangga kecil saya keluar dari rumahnya masing-masing. Si Indra, tetangga saya yang kelas empat SD, mengeluarkan sepedanya, si Aji sepupu si Indra nututi di belakangnya, Aira, si umur empat tahun tetangga samping kanan rumah saya pas, keluar lari-lari dengan balon bentuk helikopter, Nadia si kecil yang suka berkuncir dua teriak-teriak nama Aira dengan suara cadelnya. 

Saya melihat semuanya. Lihat bulan di langit, lihat bintang, dan suasana yang jadi ramai.
”Mbaakk, iki sate. Ayo maem,” tiba-tiba Si Bogi, keponakan kecil saya sudah berdiri di samping saya sambil ngacung-ngacungkan tas kresek putih dengan tusukan sate njumbul di atasnya. Saya bingung. Sekali lagi saya lihat bulan di sebelah utara. Benar, ada bulan purnama. Dan ini bukan tanggal tengah penanggalan jawa. Dan tadi itu mendung gelap loh.

Ini cerita yang biasa-biasa saja kok. Hanya sampai sekarang, saya masih bingung, kenapa tiba-tiba bulan bundar penuh itu, muncul. (Mau bikin gambar garuk-garuk kepala, tapi tidak bisa. He.he.)






  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar