Rauje
Lama sudah
lentik jemari ini tak menari riang di atas keyboard.
Seperti kerinduan setangkai mawar terhadap si jantan kumbang. Yang akhirnya
harus dibangunkan kembali oleh sebuah tulisan tengil seseorang yang tak lumrah
sebagai teman biasa.
Untungnya,
tulisan tengil itu tak dilabeli sebuah judul ketika aku terima. Jadi hanya aku
dan yang merasa saja yang akan tahu cerita ini.
Ingatan
saya masih lekat dengan masa itu. Ketika hangat telapak tangannya dibalut
dingin malam dan genggam tanganku yang dingin pula. Tiba-tiba waktu berjalan
cepat. Seolah ini akan segera berakhir. Dan aku benar-benar takut ini akan
berakhir.
Waktu
harus tetap berjalan seperti harusnya. Dan aku memang tidak bisa
mengulur-ngulurnya lagi. Hela napasmu saat terlelap berhasil menghipnotisku.
Hingga menenggelamkanku jauh di alam bawah sadar.
Saat mata
ini terbelalak, tak ada lagi hangat tanganmu dalam genggamanku. Tak ada lagi merdu
dengus napasmu. Dan, itu semua adalah mimpi terindah yang pernah terbayang
dalam imaji kesadaranku.







0 komentar:
Posting Komentar