Kenangan itu masih lekat dan dekat. Malam
pergantian tahun. Ya, menyambut lembar baru 2012. Senda tawa sekenanya memang
tidak pernah mampu ku terka. Arah dan muasalnya. Sebelumnya, aku mampir kios
kecil pinggir jalan. Membeli rokok LA isi enam belas seharga sebelas ribu.
Beberapa meter dari perempatan itu. Lampu kerlip merah kuning hijau.
Jaketku Cartenz ungu yang itu.
Ya, yang kubeli delapan bulan sebelumnya. Jadi masih nampak oke. Beberapa lembar
uang sisa dari menang lomba masih jauh dari sekedar cukup. Jika hanya untuk
menghabiskan malam yang penuh kembang api itu.
Hutangku kini bertambah. Hutang
yang tidak akan pernah lunas. Setidaknya itu yang ku tahu hingga saat ini.
Tidak tahu cara melunasi. Karena memang sudah beda. Beda keadaan dan kenyataan.
Logika tidak benar-benar mampu memberikan jawaban yang pasti mengenai itu. Dan
ini akan aku bawa hingga nanti.
Tidak ada harga yang pantas
untuku. Karena itu sangat murah. Jika hanya seperti itu. Saking murahnya aku tak
bisa menunaikannya. Karena sering menunda. Tapi kini aku ingat. Tidak ada yang
pernah tau batasan waktu itu. Hanya bisa berharap dan memohon. Entah untuk
mempercepat atau mengulurnya.
Dan aku untuk yang kesejuta
kalinya—bahkan lebih—selalu bermain-main dengannya. Meski aku tahu ia yang akan
menyudahi ini semua. Dan aku benar-benar terlena. Inginku cuma sederhana.
Jangan ada air yang menetes dari mataku. Dan jangan ada pula yang jatuh karena
aku. Biarkan semua seolah baik-baik saja.
Tak boleh apapun yang
meninggalkanku. Tidak untuk itu. Itu inginku. Biar aku saja yang pergi. Sebab,
memang tidak ada gunanya lagi. Semakin lama, akan ada lebih banyak air mata
yang menggenang. Dan sayatan dalam beberapa hati. Semakin banyak yang mati untuk sebuah kehidupan selanjutnya.
Bukan maksudku aku tidak punya
harapan lagi. Tapi memang itu harapanku. Yang paling sederhana. Jangan
menganggap asaku sudah retak dan terputus-putus. Sebab aku diramalkan
bercita-cita tinggi, pekerja keras dan tegas. Tidak hanya diramalkan. Memang
aku seperti itu adanya. Apa yang aku ingini adalah agamaku. Keyakinan. Dan menjadi urusanku dengan yang ku anggap Tuhanku.
Kebencian harus ada dan
dipelihara sejinak mungkin. Untuk melawan rasa kasih yang berlebih. Buruk
adalah sisi lain dari sebuah kebaikan yang dilihat dari sudut lain. Salah
adalah pasangan yang tidak akan rela jika harus dipisahkan dari sebuah benar.
Semua saling melengkapi.
Aku tidak ingin dan akan
menganakemaskan satu saja di antara mereka. Karena aku semakin tahu arti dari
semua itu. Walau kadang memang tidak akan pernah bisa diterima orang
kebanyakan. Yang lebih suka pada tangan kanan daripada kiri.
Aku memang bukan penganut apa-apa
yang kebanyakan orang yakini. Dan aku bisa mengerti apa-apa yang mereka
lakukan. Dan itu tidak lantas membuatku menuntut mereka untuk mengerti yang aku
yakini.







0 komentar:
Posting Komentar