RSS

19 pebruari 2013


Hey
Mumpung saya sedang mood untuk cerewet, saya mau cerewet padamu. 

Kemarin malam selepas kamu mengantarkan saya pulang, saya keluar lagi, berjalan-jalan sendiri. Di ruas jalan raya depan gang. Jalan kaki, tidak naik motor atau angkutan kota. Maunya naik becak, tapi karena kemarin malam cuaca tidak jelas dan hujannya juga kebingungan menentukan lajunya, tidak ada satupun abang becak yang nangkring di depan gang saya.

Akhirnya saya jalan kaki. Pakai payung imut warna abu-abu pudar yang belinya bareng sama kamu di toko gerabah plastik jalan kalimantan itu (ah, jadi malu. Swing...^^).

Saya jalan kaki ke arah alun-alun. Mau jalan kaki ke arah kampus, malas, kayaknya mendungnya mengarah ke sana. Mau jalan kaki ke arah Kreongan, masih dirundung curiga cerita penampakan yang sering muncul di depan rumah sakit paru-paru sana. 

Saya sudah lama tidak pernah jalan kaki, apalagi sendirian. Masa-masa jalan kaki sendirian sudah lewat selewat keberanian saya untuk lewat jalan gelap –fakultas ekonomi kita, arah perpus, masjid kampus, fakultas keguruan, fakultas kesehatan masyarakat, sampai jalan raya kalimantan—saat malam menjelang pagi jikalau sedang ngambek padamu. 


Ah, sudah romantis-romantisannya. Kembali ke topik semula: Jalan kaki sendirian. Saat saya kemarin jalan-jalan sendirian itu, di TK. Bayangkara, saya bertemu dengan seorang bapak bersama dua anak putrinya. Ban motornya bocor. Saya taksir umur bapaknya sekitar hampir 40 tahun. Dari mana saya tahun kalau itu anak-anaknya, ya karena kedua gadis kecil—yang satu umurnya mungkin tujuh delapan tahunan lah, yang satu lagi mungkin lima tahun dengan bicara yang agak cadel)—memanggilnya ayah.  

Saya berdiri agak jauh, seperti orang mau nyetop angkot, jadi kedengaran jelas apa yang mereka bicarakan. Tak ada yang istimewa sebenarnya, si kakak duduk di samping si bapak yang memangku adeknya.  Mereka berbincang kecil. Tentang beli boneka, guru di sekolah. Tapi yang menakjubkan saya, saat mereka bertiga bernyanyi bersama: Ambilkan bulan, bu, sambil tersenyum campur tawa.

Bagi saya, suara mereka bertiga itu mengalahkan paduan suara yang dipandu orkestra sekalipun. Setelah mereka selesai bernyanyi lagu itu dua kali,  bapak penambal ban belum menyelesaikan pekerjaannya, sedang bulan tak juga muncul (Lah iya, soalnya mendung gerimis). 

Akhirnya saya melanjutkan perjalanan. Sampai depan markas pasukan berdoreng, payung sudah saya katupkan. Gerimis berhenti, tinggal hawa dinginnya saja. Jaket saya rapatkan. Sampai di depan gereja, saya berhenti sebentar. Ada dua abang becak yang duduk di trotoar, merokok berdua, sambil sama-sama menghitung uang. Karena mereka berbicara memakai bahasa madura, saya tidak tahu apa yang mereka perbincangkan secara utuh. Hanya di secuil kalimat ”Tan binik sakek tak reh-mareh,” yang diucapkan oleh Abang becak lebih muda, saya paham apa maksudnya.

Malam jadi tambah dingin, saya sampai di jalanan yang bikin saya kesal—yang mungkin oleh sebagian besar orang justru dianggap menyenangkan—karena di sana-sini ada durian. Di ruas jalan inilah yang menurut saya paling ramai, dari sepanjang perjalanan saya tadi. Lumayan banyak mobil dan motor parkir. Lumayan banyak yang duduk-duduk menikmati durian, dan pilah-pilih untuk dibawa pulang. Saya turun ke jalan rayanya, sudah tidak muat trotoarnya, atau lebih tepatnya saya menghindar dari bau-bauan buah terbenci dalam hidup saya—yang saya tidak mau makan meski dibayar satu miliar sekalipun. He.he.

Hampir sampai alun-alun, ada pasangan muda duduk di pojokan toko yang sudah menepati jam tutupnya, sambil menikmati durian. Perut si perempuan membesar. Samar-samar saya mendengar si pria berbicara: ”Wis keturutan yo ngidam’e, dek. Ojo loro eneh wetenge”. Si perempuan sumringah, si pria berbicara sambil mengelus-ngelus perut si perempuan.

Saya juga ikut sumringah, dan meneruskan perjalanan. Sampai juga di alun-alun. Malam bertambah dingin, waktunya saya cari kopi.  

#Sudah selesai cerewet saya. Kalau saya cerita padamu saya habis berapa gelas kopi, kamu akan marah.




  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

2 komentar:

@AngeLinuks mengatakan...

Ini pasti Mbak Maya yang nulis. Imut banget ciiiiiiiiiiiiiiiiiiiih! :">
#iri #langsunggalau =))

Payungnya beli di Senyum, ya? Atau Rindang? :D

Unknown mengatakan...

hahahaha, kok tau???

Posting Komentar