Mengurung diri di kamar sambil
membuat catatan-catatan kelas comberan kini jadi rutinitasku. Tak banyak yang
bisa aku lakukan. Dan tak banyak pula harapan yang bisa aku sematkan. Hanya
corat-coret tiada guna sebisanya. Sambil menunggu mati. Tapi rasanya ini lebih
parah dari kematian. Apa yang telah aku perbuat. Dengan segala kebisaan yang
aku miliki. Tak banyak orang tau isi kepalaku. Bahkan aku sendiri tak harus
tahu.
Kadang tiba-tiba decak kagum itu muncul akibat pikiranku. Kadang lagi
pikiranku betul-betul tolol. Ini catatan yang kesekian kali tentang tumpahan
uneg-uneg. Yang sangat bau dan menjijikkan. Di suatu saat nanti aku berharap
ada tempat yang bisa menampungku. Dan pikiranku yang tak karuan ini. Yang bisa
meluluhlantahkan apa saja.
Aku bukan orang jenius. Ataupun orang idiot. Hanya
saja mungkin ada kecacatan dalam pikiran ini. Sehingga ada kenylenehan
dibanding kebanyakan orang. Aku tau. Dan selalu tau. Aku bisa memaklumi
kemajuan pikiran orang. Aku juga bisa mengukur seberapa orang benar-banar
pandai. Hanya dari beberapa patah kata. Dan beberapa tanda lainnya. Aku bisa
mengendusnya. Tapi batasan itu tak benar-benar kentara.
Hanya sebilah perasaan
yang kuat. Samahalnya ketika aku meletakkan keyakinanku. Tak ada yang tau. Dan
tak ada yang boleh tau. Dan tak boleh digugat. Karena hanya aku yang tau dan
langsung mengecapnya. Datar. Hambar. Tawar. Kata itu aku suka betul. Sebuah
modal awal yang siap untuk dikondisikan purwarupa. Ini urusanku. Aku dan
tuhanku. Aku tidak akan mengganggumu dengan segala keyakinanmu. Dan aku harap
kamu pula begitu.
Kalau ingin mengerti aku, susah. Jelas sekali. Tapi dengan
mudah aku bisa mengerti. Merasakan seakan mengalaminya langsung. Seolah aku
berada di suatu tempat di mana aku juga tak pernah tau. Seperti tiba-tiba
menyelam. Bisa melihat jejak rekam ikan-ikan yang berenang. Ikan yang saling
bunuh. Tanpa aku bisa berbuat apa-apa. Hanya terpaku kaku.
Mungkin di
corat-coret yang lain aku pernah menulis. Tapi tak apa ini akan aku tulis lagi.
Ini urusanku dengan Tuhanku yang selalu bekerja dengan misterius. Aku sengaja
membenturkan pikiranku dengan tembok keras. Menanti jawaban dari Tuhanku. Dan
dengan keras pula Tuhanku manjawabnya. Tak harus dipercaya. Karena lagi-lagi
ini urusanku dengan Tuhanku. Saat Tuhanku berlaku bengis. Karena ingin
membuktikan kalau aku salah. Mungkin. Tunggu. Seberapa besar Tuhanmu. Seberapa
kuasa. Bisakah Tuhanku diadu dengan tuhanmu.







0 komentar:
Posting Komentar