Hey
Mumpung saya sedang mood
untuk cerewet, saya mau cerewet padamu.
Kemarin malam selepas kamu mengantarkan saya pulang, saya keluar
lagi, berjalan-jalan sendiri. Di ruas jalan raya depan gang. Jalan kaki, tidak
naik motor atau angkutan kota. Maunya naik becak, tapi karena kemarin malam cuaca
tidak jelas dan hujannya juga kebingungan menentukan lajunya, tidak ada satupun
abang becak yang nangkring di depan gang saya.
Akhirnya saya jalan kaki. Pakai payung imut warna abu-abu pudar
yang belinya bareng sama kamu di toko gerabah plastik jalan kalimantan itu (ah,
jadi malu. Swing...^^).
Saya jalan kaki ke arah alun-alun. Mau jalan kaki ke arah kampus,
malas, kayaknya mendungnya mengarah ke sana. Mau jalan kaki ke arah Kreongan,
masih dirundung curiga cerita penampakan yang sering muncul di depan rumah
sakit paru-paru sana.
Saya sudah lama tidak pernah jalan kaki, apalagi sendirian.
Masa-masa jalan kaki sendirian sudah lewat selewat keberanian saya untuk lewat
jalan gelap –fakultas ekonomi kita, arah perpus, masjid kampus, fakultas
keguruan, fakultas kesehatan masyarakat, sampai jalan raya kalimantan—saat
malam menjelang pagi jikalau sedang ngambek padamu.
Ah, sudah romantis-romantisannya. Kembali ke topik semula: Jalan
kaki sendirian. Saat saya kemarin jalan-jalan sendirian itu, di TK. Bayangkara,
saya bertemu dengan seorang bapak bersama dua anak putrinya. Ban motornya
bocor. Saya taksir umur bapaknya sekitar hampir 40 tahun. Dari mana saya tahun
kalau itu anak-anaknya, ya karena kedua gadis kecil—yang satu umurnya mungkin
tujuh delapan tahunan lah, yang satu lagi mungkin lima tahun dengan bicara yang
agak cadel)—memanggilnya ayah.
Saya
berdiri agak jauh, seperti orang mau nyetop angkot, jadi kedengaran jelas apa
yang mereka bicarakan. Tak ada yang istimewa sebenarnya, si kakak duduk di
samping si bapak yang memangku adeknya. Mereka
berbincang kecil. Tentang beli boneka, guru di sekolah. Tapi yang menakjubkan
saya, saat mereka bertiga bernyanyi bersama: Ambilkan bulan, bu, sambil
tersenyum campur tawa.
Bagi saya, suara mereka bertiga itu mengalahkan paduan suara yang
dipandu orkestra sekalipun. Setelah mereka selesai bernyanyi lagu itu dua kali,
bapak penambal ban belum menyelesaikan
pekerjaannya, sedang bulan tak juga muncul (Lah iya, soalnya mendung gerimis).
Akhirnya saya melanjutkan perjalanan. Sampai depan markas pasukan
berdoreng, payung sudah saya katupkan. Gerimis berhenti, tinggal hawa dinginnya
saja. Jaket saya rapatkan. Sampai di depan gereja, saya berhenti sebentar. Ada
dua abang becak yang duduk di trotoar, merokok berdua, sambil sama-sama
menghitung uang. Karena mereka berbicara memakai bahasa madura, saya tidak tahu
apa yang mereka perbincangkan secara utuh. Hanya di secuil kalimat ”Tan binik sakek tak reh-mareh,” yang
diucapkan oleh Abang becak lebih muda, saya paham apa maksudnya.
Malam jadi tambah dingin, saya sampai di jalanan yang bikin saya
kesal—yang mungkin oleh sebagian besar orang justru dianggap
menyenangkan—karena di sana-sini ada durian. Di ruas jalan inilah yang menurut
saya paling ramai, dari sepanjang perjalanan saya tadi. Lumayan banyak mobil
dan motor parkir. Lumayan banyak yang duduk-duduk menikmati durian, dan
pilah-pilih untuk dibawa pulang. Saya turun ke jalan rayanya, sudah tidak muat
trotoarnya, atau lebih tepatnya saya menghindar dari bau-bauan buah terbenci
dalam hidup saya—yang saya tidak mau makan meski dibayar satu miliar sekalipun.
He.he.
Hampir sampai alun-alun, ada pasangan muda duduk di pojokan toko
yang sudah menepati jam tutupnya, sambil menikmati durian. Perut si perempuan membesar.
Samar-samar saya mendengar si pria berbicara: ”Wis keturutan yo ngidam’e, dek. Ojo loro eneh wetenge”. Si
perempuan sumringah, si pria berbicara sambil mengelus-ngelus perut si
perempuan.
Saya juga ikut sumringah, dan meneruskan perjalanan. Sampai juga
di alun-alun. Malam bertambah dingin, waktunya saya cari kopi.
#Sudah selesai cerewet saya. Kalau saya cerita padamu saya habis
berapa gelas kopi, kamu akan marah.







2 komentar:
Ini pasti Mbak Maya yang nulis. Imut banget ciiiiiiiiiiiiiiiiiiiih! :">
#iri #langsunggalau =))
Payungnya beli di Senyum, ya? Atau Rindang? :D
hahahaha, kok tau???
Posting Komentar