Bola itu manis. Tapi saat
dimainkan, penuh resiko. Setidaknya tulisan singkat itu telah berdiam di draf
ponselku seberapa lama. Saat kesadaranku sontak meletup terpantik perilaku
konyol beberapa orang. Dan aku rasa hingga aku membuat tulisan itu nampak lebih
panjang, masih berlaku. Aku tak peduli ini akan dimaknai
seharfiah itu atau apa. Yang jelas ketetapan itu sudah tertulis di kitab lelakon
hidup.
29 April 2013
Entah karena software office-ku yang rusak atau PC-ku yang tidak rela. Ketika aku
hendak membual tentang kenyataan yang terjadi, tampilan di muka layar beku
seketika. Setelah beberapa kalimat telah berhasil aku sematkan. Seperti tempelan
yang tak bisa diapa-apakan lagi. Hingga harus Task Manager yang turun tangan mengakhirinya.
Aku tahu, yang penting buatku
tidak harus sama buatmu. Ini lantas menjadi opus maknumku dalam bertindak. Bukan
berarti aku egois. Aku hanya tidak berniat—jangankan memaksakan—inginmu mengikuti
inginku. Karena memang sudah berbeda.
Akan ku tempuh jalanku lagi. Sebuah
kejatian memori lama dalam diriku. Yang sempat terombang-ambing mengambang
sekian lama. Aku tidak akan kompromi lagi. Bilang saja ya, atau juga tidak. Bagiku
sudah cukup. Tak perlu mangutarakan alasan apapun.
Aku memang suka bermain-main. Tapi
tidak untuk dipermainkan. Mungkin ada benarnya katamu waktu itu. Sendiri akan
lebih baik. Tidak ada ketergantungan. Tidak banyak berharap. Dan pastinya tidak
ada otak kedua dalam segala hal.
Aku sedang menikmati ini. Dan sendiri.
Persetan dengan kalian semua. Aku tidak akan bikin kekacuan pada kalian. Jadi jangan
mengacau laju waktuku. Jangan mengiming-imingi sesuatu yang pasti akan kutepis.
Sia-sia belaka. Perlahan aku akan menguburnya dalam-dalam. Menghempasnya tak bersisa. Tanpa jejak. Tanpa kesempatan untuk menggalinya lagi.
Aku hanya butuh sedikit waktu
untuk menuntaskan selembar cerita kehidupanku. Dan kita punya lembar
masing-masing. Aku tidak pernah dan tidak akan menggoreskan pena waktu di
halaman lembarmu. Jadi jangan sekali-kali pula selembar miliku kau kotori. Karena
aku pasti akan mengutuk. Dengan doa yang isinya cerca.
16 april 2013
Rauje
Lama sudah
lentik jemari ini tak menari riang di atas keyboard.
Seperti kerinduan setangkai mawar terhadap si jantan kumbang. Yang akhirnya
harus dibangunkan kembali oleh sebuah tulisan tengil seseorang yang tak lumrah
sebagai teman biasa.
Untungnya,
tulisan tengil itu tak dilabeli sebuah judul ketika aku terima. Jadi hanya aku
dan yang merasa saja yang akan tahu cerita ini.
Ingatan
saya masih lekat dengan masa itu. Ketika hangat telapak tangannya dibalut
dingin malam dan genggam tanganku yang dingin pula. Tiba-tiba waktu berjalan
cepat. Seolah ini akan segera berakhir. Dan aku benar-benar takut ini akan
berakhir.
Waktu
harus tetap berjalan seperti harusnya. Dan aku memang tidak bisa
mengulur-ngulurnya lagi. Hela napasmu saat terlelap berhasil menghipnotisku.
Hingga menenggelamkanku jauh di alam bawah sadar.
Saat mata
ini terbelalak, tak ada lagi hangat tanganmu dalam genggamanku. Tak ada lagi merdu
dengus napasmu. Dan, itu semua adalah mimpi terindah yang pernah terbayang
dalam imaji kesadaranku.
Langganan:
Komentar (Atom)







.jpg)
