RSS

30 Juni 2013



Kenangan itu masih lekat dan dekat. Malam pergantian tahun. Ya, menyambut lembar baru 2012. Senda tawa sekenanya memang tidak pernah mampu ku terka. Arah dan muasalnya. Sebelumnya, aku mampir kios kecil pinggir jalan. Membeli rokok LA isi enam belas seharga sebelas ribu. Beberapa meter dari perempatan itu. Lampu kerlip merah kuning hijau.

Jaketku Cartenz ungu yang itu. Ya, yang kubeli delapan bulan sebelumnya. Jadi masih nampak oke. Beberapa lembar uang sisa dari menang lomba masih jauh dari sekedar cukup. Jika hanya untuk menghabiskan malam yang penuh kembang api itu.

Hutangku kini bertambah. Hutang yang tidak akan pernah lunas. Setidaknya itu yang ku tahu hingga saat ini. Tidak tahu cara melunasi. Karena memang sudah beda. Beda keadaan dan kenyataan. Logika tidak benar-benar mampu memberikan jawaban yang pasti mengenai itu. Dan ini akan aku bawa hingga nanti.

Tidak ada harga yang pantas untuku. Karena itu sangat murah. Jika hanya seperti itu. Saking murahnya aku tak bisa menunaikannya. Karena sering menunda. Tapi kini aku ingat. Tidak ada yang pernah tau batasan waktu itu. Hanya bisa berharap dan memohon. Entah untuk mempercepat atau mengulurnya.

Dan aku untuk yang kesejuta kalinya—bahkan lebih—selalu bermain-main dengannya. Meski aku tahu ia yang akan menyudahi ini semua. Dan aku benar-benar terlena. Inginku cuma sederhana. Jangan ada air yang menetes dari mataku. Dan jangan ada pula yang jatuh karena aku. Biarkan semua seolah baik-baik saja.

Tak boleh apapun yang meninggalkanku. Tidak untuk itu. Itu inginku. Biar aku saja yang pergi. Sebab, memang tidak ada gunanya lagi. Semakin lama, akan ada lebih banyak air mata yang menggenang. Dan sayatan dalam beberapa hati. Semakin banyak yang mati untuk sebuah kehidupan selanjutnya.

Bukan maksudku aku tidak punya harapan lagi. Tapi memang itu harapanku. Yang paling sederhana. Jangan menganggap asaku sudah retak dan terputus-putus. Sebab aku diramalkan bercita-cita tinggi, pekerja keras dan tegas. Tidak hanya diramalkan. Memang aku seperti itu adanya. Apa yang aku ingini adalah agamaku. Keyakinan. Dan menjadi urusanku dengan yang ku anggap Tuhanku.

Kebencian harus ada dan dipelihara sejinak mungkin. Untuk melawan rasa kasih yang berlebih. Buruk adalah sisi lain dari sebuah kebaikan yang dilihat dari sudut lain. Salah adalah pasangan yang tidak akan rela jika harus dipisahkan dari sebuah benar. Semua saling melengkapi.

Aku tidak ingin dan akan menganakemaskan satu saja di antara mereka. Karena aku semakin tahu arti dari semua itu. Walau kadang memang tidak akan pernah bisa diterima orang kebanyakan. Yang lebih suka pada tangan kanan daripada kiri.

Aku memang bukan penganut apa-apa yang kebanyakan orang yakini. Dan aku bisa mengerti apa-apa yang mereka lakukan. Dan itu tidak lantas membuatku menuntut mereka untuk mengerti yang aku yakini.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS