Pesan Bulan
Bundar: Satu.
Bulan purnama itu
bagus, indah, sekaligus menyeramkan. Itu ingat saya atas keberadaan bulan purnama
bagi saya saat umur empat tahun. Bagus dan indah karena menakjubkan sekali
melihat bulatan serupa emas bundar utuh bertenger di langit, menyeramkan karena
si bulan selalu dikait-kaitkan dengan buto ijo dan kemarahannya.
Namun, melihat
bulan purnama dari rumah saya itu tak seromantis seperti yang dipertontonkan
film—yang bisa menonton si bulan dari jendela kamarnya sambil membayangkan
wajah kekasih idaman. Tidak lah. Rumah saya terletak di gang kecil. Jarak
antara satu rumah dengan lainnya cukup dekat, kurang lebih semeter lah. Jadi
bisa dibilang juga pet-dempetan. Dengan letak rumah yang begitu, mustahil bukan
melihat bulan dari jendela kamar? Adanya yang kelihatan malah tembok tetangga.
Dengan keadaan
seperti itu, tentu saja untuk melihat bulan purnama, saya harus keluar rumah.
Berdiri di jalanan gang. Mencari apa si purnama berada di ujung timur, sebelah
barat. Atau saya harus berjinjit mencari di atas genting rumah serta tetangga,
di sisi utara dan selatan. Begitu bulan purnama sudah ketemu dengan mata saya,
saya menikmatinya habis-habisan, meski cuma bisa maksimal lima menit (karena
ndak mungkin bukan saya berdiri di tengah jalan umum yang dilalui orang
selama-lama semau saya?). He.he.
Hemm..itu
cerita mengenai cara melihat bulan purnama. Kini saya mau cerita mengenai bulan
purnama yang biasa-biasa saja, tak ada istimewanya—bagi saya loh, menurut saya
loh.







