Harusnya aku malu dan sedih jika
terpaksa harus menulis ini. Atau mungkin tidak usah aku tulis saja. Biar saja
menjadi sampah penghias langit-langit ingatanku. Tidak. Aku akan tetap
menulisnya. Dengan bahasaku dan dengan caraku memahami. Ini urusanku dengan
sakitku.
Aku tidak berharap mengetahuinya.
Aku juga tidak berharap siapapun mengetahuinya. Hanya mataku yang tidak bisa
menyembunyikan. Sebab airnya meluap, jadi berkaca-kaca. Dan aku harus segera
menyembunyikannya.
Aku tahu semua ini memang
didasari cinta kasih. Tapi mengapa seperti itu. Dan selalu begitu. Dan aku
selalu diposisikan tidak harus berbuat dan selalu pasrah.
Inikah perbedaan kuasa. Yang seharusnya
kuasaku atas yang aku alami. Sungguh mengecewakan. Ternyata hanya tong kosong
yang menggelinding kemana-mana. Tak berguna dan membebani saja. Apa dari ini
semua?






